Hari sudah menunjukkan pukul 15.00 WIB. Dengan tergesa-gesa ku bersiap, menyiapkan segala perkakas kuliah yang akan dibawa. Sesekali ku melihat keluar jendela, langit yang mulai gelap membuatku gelisah. Hp pun berdering...
Tilililililiiiiiit......... tut tut.. tit.....
“new message” gumamku sembari melihat layar hp yang masih berkedip kedip.
Ibuk dah masuk, buruan gih !!!
Huaaaaaa!!!!!!!!!!!!!! Gimanaaa.... gimaaanaaaaa......... tuh dosen ontime banget sih. Aku menggerutu sendiri. Pena sudah, milimeter sudah, payung, hape, pensil, rol, buku, notes, dompet... ku mengeja semua barang yang ada di tas dengan cepat.
Duk duk duk..... rumah kayu tempat ku berdiri sekarang seolah bergoyang...
“hey... kuyuk.... ibuk dah masuk neeeee” si jeber temen sekos yang sudah rapi terengah-engah masuk ke kamarku.
“iya iya.... yook....” bergegas kami mengenakan sepatu, dan berlari kecil menuruni tangga. Tiba-tiba kami berdua terbengong-bengong melihat jutaan anak air jatuh ke permukaan bumi dengan indahnya. Tidak hanya itu, berkali-kali langit menjepret bumi dengan kilatannya yang membuat jantung berdegup kencang. Ku kira hanya saat bertemu dengan pujaan hati saja jantungku bereaksi seperti itu. Tapi ternyata teoriku salah ! petir plus suara yang memekakkan telinga berhasil mengobrak abrik semangatku untuk kuliah.
“gimana nih berr..... lanjut gak??” aku mulai ragu.
“lanjut aj deh, ibuk udah masuk. Kita hadang aja dah !! ntar tiba disimpang kita naik ojek aja” jeber segera membuka payungnya. Dan terjadilah adegan romantis, satu payung berdua n tak henti hentinya langit menjepret adegan tersebut. (huaaa.. Gubrak!!)
Jalan dan terus berjalan menempuh derasnya hujan. Semangat juang kami takkan pernah padam. Apapun yang terjadi takkan menggoyahkan minat kami untuk menuntut ilmu.demi masa depan!! Iiiiihaaaaaaa ^_*
Kami kembali melongo, jalanan sepi... tidak ada ojek !!
“jeber.. jalan aja yok.. kita hadang aja!”
“yakin nih yuk, ntar klo basah gimana?”
“pi ojek gak ada niiih, daripada diem kayak gini mending kita tempuh aja”
“eh kuyuk, jarak ke kampus kan jauh. Sekalian aja ngesot... !!!”
Aku tak peduli, menariknya untuk berjalan kaki. Payung biru yang ku sayangpun sudah terkembang. Tidak lagi sepayung berdua, tapi dua payung dua orang. ‘Pas ciek surang’ bahasa minangnya. Bukannya reda, tapi hujan semakin menjadi jadi, angin kencang dan gemuruh bertubi-tubi.
Tantangan kami pun semakin berat. Dua fakultas sudah kami lalui, yaitu olah raga dan fakultas bahasa sastra, masih banyak tantangan yang harus kami hadapi :
- Fakultas teknik
- Rektorat
- Fakultas pendidikan dan
- Lapangan bola
Si guntur dengan suaranya yang menggelegar menyapa kami.
Duaaaaaarrrr !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Wewewwwww.... payung kami bersatu, saling merapat satu sama lain. Tak peduli rintikan yang jatuh dari sudut-sudut payung membasahi badan kami. Kami saling melihat dan tertawa lepas. Menyadari banyak pasang mata yang melihat di sepanjang tepi-tepi gedung yang di lalui kamipun memisahkan diri, jalan sendiri dengan payung masing-masing. Tapi guntur yang tidak kalah keras kembali menderu, dan kami kembali menyatu, tertawa cengengesan dan berpisah.
Guntur lagi, saling merapat, cengengesan satu sama lain, memisah. Dan begitulah berkali-kali selama guntur menyapa yang jarak antar satu guntur dengan guntur susulan seperti tidak mengenal jarak waktu saja.
lokal D43 sudah di depan mata. Kami menarik nafas lega, perjalanan menegangkan dari kos menuju kampus yang dirasa se abad sebentar lagi akan berakhir.
Senyum kami mengembang, kami berdua cengengesan sepanjang koridor kampus membayangkan kejadian yang baru kami alami.
“udah jam berapa nih?” ku baru ingat, apa ku masih bisa masuk atau tidak.
“Jam setengah empat, gimana nih??” jeber tampak panik. Ku bisa melihat semangat api belajar yang berkobar-kobar masih ada di dalam matanya. Ku mengintai intai lokal tersebut. Si ibuk dosen sedang di kelilingi oleh para mahasiswa.
“Aman ber... ayo masukkk !!” dengan perlahan kami memasuki ruangan. Teman – teman ada yang tertawa melihat tingkah kami, ada yang geleng-geleng kepala, namun sialnya ada yang meneriaki kami sambil memanggil manggil buk dosen.syukurnya buk dosen yang terlalu sibuk tidak mengacuhkan panggilan itu.
Fiuuuuuuuuuuuhhh...............
“Akhirnyaaaa.................. sampai dengan selamat juga di kampus ya ber..”
“iyaaaaaa” kami berdua senyum senyum.
Tapi tunggu dulu,, kok gak nyaman banget ya rasanya. Akupun melihat kondisi tubuhku, sepatu, baju, tas... Baaaassssssssaaaaaaaaaaaaaaaaahhhh !!!!!!!!!!!!!!
Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaawaaaaaawaaa (T_T)
Hiks....